Kamis, 11 Juni 2015
Suasana seperti tak terkendali. Siulan-siulan panjang melengking tak henti-henti. Warna lampu panggung sudah berubah merah. Dentuman gendang mulai membahana. Dan begitu suara seruling kedengarannya mengalun nyaring, puluhan penonton pun berteriak-teriak ganas.
Dengan hentakan kecil Nurjanah meloncat ke atas panggung. Begitu kakinya menapak, tubuhnya yang terbungkus rok terusan merah berkelip-kelip itu langsung berputar satu lingkaran dan berhenti persis menghadap penonton dalam posisi membungkukkan badan. Sorak-sorai panjang memenuhi lapangan. Nurjanah mencabut mikrofon dan berteriak lantang.
“Kita joget sampai pagi???”
“Sampai pagi…!!”
“Goyang sampai pagi???”
“Sampai pagi…!!”
Segera setelah itu orang-orang seperti terpimpin untuk bersama-sama melenggak-lenggokkan badan. Satu ayunan. Satu irama. Satu desah. Satu napas. Saat sebelah kaki Nurjanah terangkat tinggi-tinggi, saat pinggulnya berputar delapan kali ke kanan delapan kali ke kiri. Panas. Histeris. Birahi.
“Lihat rembulan, putih berseri. Derita sebulan lupakan malam ini. Kita joget-joget-joget… jangan berhenti! Kita goyang-goyang-goyang sampai pagi…!”
Bau keringat para penjoget merebak tajam, membaur dengan aroma tisyu kolonyet dan berbagai wewangian murah. Sementara di tepi lapangan banyak pula yang duduk mengerumuni warung, menenggak bir, minum TKW, anggur ketan-item, sambil mata mereka tak lepas-lepas menelanjangi tubuh Nurjanah, membayangkan pergelutan di ranjang dengan perempuan seronok itu. Semua terkesima. Ternganga. Teler. baca selanjutnya...

0 komentar:
Posting Komentar